A.
Hakikat
Manusia
What
is a man? Demikian
pertanyaan yang dikemukakan oleh Jujun S. Suriasumantri ketika mulai membahas
bidang telaah filsafat. Untuk menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu
kiranya dikemukakan beberapa prinsip yang menjadi dasar filosofis bagi
pandangan pendidikan Islam. Al Syaibani dalam hal ini menyebutkan delapan
prinsip sebagai berikut:
1.
Manusia
adalah makhluk paling mulia di alam ini. Allah telah membekalinya dengan
keistimewaan-keistimewaan yang menyebabkan ia berhak mengunggulimakhluk lain.
2.
Kemuliaan
manusia atas makhluk lain adalah karena diangkat sebagai khalifah Allah
yang bertugas memakmurkan bumi atas dasar ketakwaan.
3.
Manusia
adalah makhluk berpikir yang menggunakan bahasa sebagai media.
4.
Manusia
adalah makhluk tiga dimensi seperti segitiga sama kaki yang terdiri dari tubuh,
akal, dan ruh.
5.
Pertumbuhan
dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.
6.
Manusia
mempunyai motovasi dan kebutuhan.
7.
Manusia
mempunyai sifat luwes dan selalu berubah melalui proses pendidikan.
Dengan
berpegang kepada delapan prinsip ini, kiranya mudah bagi filsafat untuk
menentukan konsep tentang hakikat manusia. Konsep ini tentunya mencakup tentang
proses penciptaan manusia, tujuan hidup, kedudukan, dan tugas manusia.
B.
Proses
Penciptaan Manusia
Allah
menciptakan manusia melalui proses, Al Qur’an menjelaskan dalam surah Al
Mu’minun ayat 12-14:
“Dan sungguh Kami
telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami
menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian,
air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu
kami jadikan segmpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, Pencipta yang
paling baik.”
Di
dalam Al Qur’an ada banyak ayat yang menjelaskan tentang asal-usul manusia, diantaranya
dalam QS Al Hijr ayat 26 dan 33 dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia
diciptakan dari tanah liat kering dan lumpur.
C.
Tujuan
Hidup Manusia
Al
Qur’an menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah
kepada-Nya. Ibadah dalam hal ini dimaksudkan dalam arti luas, yaitu nama bagi
segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun
perbuatan, pendeknya, tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah
dalam segala tingkah lakunya.
Tujuan hidup manusia selanjutnya adalah akhirat, inilah yang
merupakan tujuan akhir kita, karena hidup di dunia hanya sementara. Kita di
dunia mencari bekal untuk kehidupan di akhirat, namun tidak dipungkiri ada
manusia yang mementingkan kehidupan di dunia daripada kehidupan akhirat.
Padahal rasulullah saw bersabda:
“Kejarlah duniamu seakan-akan kamu hidup seribu tahun lagi, dan
kejarlah akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”
Hadits di atas menjelaskan bahwa kita harus menyeimbangkan dunia
dan akhirat, jangan kita mementingkan dunia, tapi kita juga tidak boleh
melupakannya, karena dunia ini bagai kebun bagi kita, kita akan memetik
hasilnya di akhirat kelak.
D.
Kedudukan
Manusia
Kedudukan
manusia menurut QS Al Baqarah ayat 30, manusia berkedudukan sebagai khalifah
Allah.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat
“Sesungguhnya Aku hendak menciptakan khalifah di bumi”
Kata khalifah pada ayat di atas bermakna pengganti,
manusia ditunjuk Allah sebagai pengganti untuk mengatur dan mengelola bumi.
Manusia sebagai khalifah Allah di bumi, mempunyai beberapa karakteristik
sebagai berikut:
1. Manusia semenjak awal penciptaannya adalah baik secara fitrah. Ia tidak
mewarisi dosa karena Adam meninggalkan surge.
2. Interaksi antara badan dan ruh menghasilkan khalifah.
Karakteristik ini membedakan manusia dengan makhluk lain.
3. Manusia selaku khalifah memiliki kebebasan berkehendak, yaitu suatu
kebebasan yang menyebabkan manusia dapat memilih tingkah lakunya sendiri.
4. Manusia dibekali
akal yang dengan akal itu manusia mampu membuat pilihan antara benar dan salah.
Perlu
diketahui bahwa Allah menjadikan manusia pengganti untuk menatur dan mengelola
bumi, bukan berarti bahwa Allah tidak mampu melakukannya, tapi Dia ingin
melihat sampai di mana manusia mampu mengatur dan mengelola bumi ini.
E.
Tugas
Manusia
Setelah
diketahui bahwa tujuan hidup manusia adalah mengabdi dan kedudukannya sebagai
khalfah, selanjutnya ita haru mengetahui tugas manusia di bumi. Tugas manusia
dalam pandangan Islam adalah memakmurkan bumi dengan memanifestasi potensi
Tuhan dalam dirinya. Dengan kata lain, manusia sebenarnya diperintahkan untuk
mengembangkan sifat-sifat Tuhan (asma al husna) menurut
petuhjuk-petunjuk-Nya. Sebagai contoh Tuhan adalah Maha Pengasih, maka manusia
diperintahkan untuk bersifat asih terhadap dirinya dan makhluk lain.
Namun
dalam hal memanifestasi sifat-sifat Tuhan ini manusia melakukannya dengan
terbatas. Hal ini selain karena watak keterbatasan manusia, juga dimaksudkan
agar manusia tidak mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Semestinya manusia
menganggap proses perwujudan sifat-sifat Tuhan ini sebagai suatu amanah, agar
manusia mempunyai tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan tugas ini.
F.
Potensi
Manusia
Untuk
menjalankan tugasnya sebagai khalifah, manusia diekali Tuhan dengan
potensi. Potensi-potensi ini diberikan Tuhan kepada manusia sebagai suatu
anugerah, yang tidak diberikan Tuhan kepada makhluk lain. Potensi manusia dalam
bahasa agama disebut dengan fitrah.
Berkenaan
dengan potensi yang dibekalkan Tuhan kepada manusia para ahli filsafat telah
memberikan predikat kepada manusia. Predikat-predikat itu sebagai berikut:
1.
Manusia
adalah makhluk yang mempunyai budi pekerti.
2.
Manusia
adalah binatang yang berpikir.
3.
Manusia
adalah makhluk yang pandai menciptakan bahasa.
4.
Manusia
adalah makhluk yang pandai bekerja sama.
5.
Manusia
adalah makhluk yang pandai membuat perkakas.
6.
Manusia
adalah makhluk yang tunduk kepada prinsip ekonomi.
7.
Manusia
adalah makhluk yang beragama.
8.
Manusia
adalah makhluk yang terdiri dari unsur ruhaniah spiritualnya.
9.
Manusia
makhluk yang dapat menerima pendidikan.
Oleh
karena Islam memandang setiap manusia terlahir ke dunia sudah dibekali dengan
potensi yang baik dan suci, pandangan ini merupakan pandangan optimistik.
Pandangan ini bertentangan dengan pandangan pesimistik yang mengatakan bahwa
manusia membawa potensi jahat dalam dalam diri manusia. Pandangan ini pada
hakikatnya merupakan implikasi dari suatu pemikiran yang menganggap manusia
terlahir dengan membawa dosa warisan.
G.
Pendidikan
Islam tentang Pengembangan Potensi Manusia
Pandangan
Islam tentang potensi manusia di atas memberikan implikasi bahwa seandainya
manusia dibiarkan saja tidak menerima pendidikan maka dengan sendirinya ia akan
menjadi baik, sebab manusia dibekali dengan potensi kebaikan. Lain halnya ketika
manusia memperoleh pendidikan, pendidikanlah yang dipandang sebagai pengaruh
dan penentu, apakah ia menjadi baik atau menjadi buruk, seperti diterangkan
dalam hadits:
“Setiap anak dilahirkan
dalam keadaan fitrah (suci) orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi,
Nasrani atau Majusi”
(HR. Bukhari)
Dari
hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan dalam keluarga menjadi
penentu apakah manusia bisa lebih baik atau sebaliknya, karena manusia tidak
bisa lepas dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat.
Tugas
utama pendidikan sesungguhnya adalah mengubah potensi manusia menjadi kemampuan
atau keterampilan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Jadi untuk mengubah
potensi menjadi skill yaitu dengan jalan pendidikan.
H.
Istilah
Manusia dalam Al Qur’an
Al
Qur’an menggunakan istilah dalam menyebutkan manusia, diantaranya:
1.
An-Nas
Kata
Nas merujuk kepada manusia sebagai makhluk sosial, seperti dijelaskan
dalam QS Al Hujurat ayat 13:
“ Hai manusia, Sesungguhnya kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.”
2.
Al-Insan
Istlah ini
merujuk kepada tiga konteks, pengemban amanah (QS Al Ahzab: 72), kecenderungan
negative manusia (QS Al Isra’: 12 dan 100), dan proses penciptaan manusia (QS
Al Hijr: 26)
3.
Al-Basyar
Al Basyar mengacu pada manusia makhluk biologis (QS Al Kahf:110):
“Katakanlah (Muhammad), “sesungguhnya aku ini manusia seperti kamu
yang telah menerima wahyu, bahwa sesunggunya Tuhanmu ialah Tuhan yang Esa.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar