Cari disini

Kamis, 14 Mei 2015

HAKIKAT MANUSIA DAN POTENSINYA



A.           Hakikat Manusia
What is a man? Demikian pertanyaan yang dikemukakan oleh Jujun S. Suriasumantri ketika mulai membahas bidang telaah filsafat. Untuk menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu kiranya dikemukakan beberapa prinsip yang menjadi dasar filosofis bagi pandangan pendidikan Islam. Al Syaibani dalam hal ini menyebutkan delapan prinsip sebagai berikut:
1.             Manusia adalah makhluk paling mulia di alam ini. Allah telah membekalinya dengan keistimewaan-keistimewaan yang menyebabkan ia berhak mengunggulimakhluk lain.
2.             Kemuliaan manusia atas makhluk lain adalah karena diangkat sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi atas dasar ketakwaan.
3.             Manusia adalah makhluk berpikir yang menggunakan bahasa sebagai media.
4.             Manusia adalah makhluk tiga dimensi seperti segitiga sama kaki yang terdiri dari tubuh, akal, dan ruh.
5.             Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.
6.             Manusia mempunyai motovasi dan kebutuhan.
7.             Manusia mempunyai sifat luwes dan selalu berubah melalui proses pendidikan.
Dengan berpegang kepada delapan prinsip ini, kiranya mudah bagi filsafat untuk menentukan konsep tentang hakikat manusia. Konsep ini tentunya mencakup tentang proses penciptaan manusia, tujuan hidup, kedudukan, dan tugas manusia.
B.            Proses Penciptaan Manusia
Allah menciptakan manusia melalui proses, Al Qur’an menjelaskan dalam surah Al Mu’minun ayat 12-14:
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan segmpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik.”

Di dalam Al Qur’an ada banyak ayat yang menjelaskan tentang asal-usul manusia, diantaranya dalam QS Al Hijr ayat 26 dan 33 dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat kering dan lumpur.
C.            Tujuan Hidup Manusia
Al Qur’an menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam hal ini dimaksudkan dalam arti luas, yaitu nama bagi segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, pendeknya, tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah dalam segala tingkah lakunya.
Tujuan hidup manusia selanjutnya adalah akhirat, inilah yang merupakan tujuan akhir kita, karena hidup di dunia hanya sementara. Kita di dunia mencari bekal untuk kehidupan di akhirat, namun tidak dipungkiri ada manusia yang mementingkan kehidupan di dunia daripada kehidupan akhirat. Padahal rasulullah saw bersabda:
Kejarlah duniamu seakan-akan kamu hidup seribu tahun lagi, dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”
Hadits di atas menjelaskan bahwa kita harus menyeimbangkan dunia dan akhirat, jangan kita mementingkan dunia, tapi kita juga tidak boleh melupakannya, karena dunia ini bagai kebun bagi kita, kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak.
D.           Kedudukan Manusia
Kedudukan manusia menurut QS Al Baqarah ayat 30, manusia berkedudukan sebagai khalifah Allah.
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan khalifah di bumi”

Kata khalifah pada ayat di atas bermakna pengganti, manusia ditunjuk Allah sebagai pengganti untuk mengatur dan mengelola bumi. Manusia sebagai khalifah Allah di bumi, mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut:
 1.           Manusia semenjak awal penciptaannya adalah baik secara fitrah. Ia tidak mewarisi dosa karena Adam meninggalkan surge.
2.          Interaksi antara badan dan ruh menghasilkan khalifah. Karakteristik ini membedakan manusia dengan makhluk lain.
3.     Manusia selaku khalifah memiliki kebebasan berkehendak, yaitu suatu kebebasan yang menyebabkan manusia dapat memilih tingkah lakunya sendiri.
4.          Manusia dibekali akal yang dengan akal itu manusia mampu membuat pilihan antara benar dan salah.
Perlu diketahui bahwa Allah menjadikan manusia pengganti untuk menatur dan mengelola bumi, bukan berarti bahwa Allah tidak mampu melakukannya, tapi Dia ingin melihat sampai di mana manusia mampu mengatur dan mengelola bumi ini.
E.            Tugas Manusia
Setelah diketahui bahwa tujuan hidup manusia adalah mengabdi dan kedudukannya sebagai khalfah, selanjutnya ita haru mengetahui tugas manusia di bumi. Tugas manusia dalam pandangan Islam adalah memakmurkan bumi dengan memanifestasi potensi Tuhan dalam dirinya. Dengan kata lain, manusia sebenarnya diperintahkan untuk mengembangkan sifat-sifat Tuhan (asma al husna) menurut petuhjuk-petunjuk-Nya. Sebagai contoh Tuhan adalah Maha Pengasih, maka manusia diperintahkan untuk bersifat asih terhadap dirinya dan makhluk lain.
Namun dalam hal memanifestasi sifat-sifat Tuhan ini manusia melakukannya dengan terbatas. Hal ini selain karena watak keterbatasan manusia, juga dimaksudkan agar manusia tidak mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan. Semestinya manusia menganggap proses perwujudan sifat-sifat Tuhan ini sebagai suatu amanah, agar manusia mempunyai tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan tugas ini.
F.             Potensi Manusia
Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah, manusia diekali Tuhan dengan potensi. Potensi-potensi ini diberikan Tuhan kepada manusia sebagai suatu anugerah, yang tidak diberikan Tuhan kepada makhluk lain. Potensi manusia dalam bahasa agama disebut dengan fitrah.
Berkenaan dengan potensi yang dibekalkan Tuhan kepada manusia para ahli filsafat telah memberikan predikat kepada manusia. Predikat-predikat itu sebagai berikut:
1.             Manusia adalah makhluk yang mempunyai budi pekerti.
2.             Manusia adalah binatang yang berpikir.
3.             Manusia adalah makhluk yang pandai menciptakan bahasa.
4.             Manusia adalah makhluk yang pandai bekerja sama.
5.             Manusia adalah makhluk yang pandai membuat perkakas.
6.             Manusia adalah makhluk yang tunduk kepada prinsip ekonomi.
7.             Manusia adalah makhluk yang beragama.
8.             Manusia adalah makhluk yang terdiri dari unsur ruhaniah spiritualnya.
9.             Manusia makhluk yang dapat menerima pendidikan.
Oleh karena Islam memandang setiap manusia terlahir ke dunia sudah dibekali dengan potensi yang baik dan suci, pandangan ini merupakan pandangan optimistik. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan pesimistik yang mengatakan bahwa manusia membawa potensi jahat dalam dalam diri manusia. Pandangan ini pada hakikatnya merupakan implikasi dari suatu pemikiran yang menganggap manusia terlahir dengan membawa dosa warisan.
G.           Pendidikan Islam tentang Pengembangan Potensi Manusia
Pandangan Islam tentang potensi manusia di atas memberikan implikasi bahwa seandainya manusia dibiarkan saja tidak menerima pendidikan maka dengan sendirinya ia akan menjadi baik, sebab manusia dibekali dengan potensi kebaikan. Lain halnya ketika manusia memperoleh pendidikan, pendidikanlah yang dipandang sebagai pengaruh dan penentu, apakah ia menjadi baik atau menjadi buruk, seperti diterangkan dalam hadits:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari)
Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan dalam keluarga menjadi penentu apakah manusia bisa lebih baik atau sebaliknya, karena manusia tidak bisa lepas dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Tugas utama pendidikan sesungguhnya adalah mengubah potensi manusia menjadi kemampuan atau keterampilan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Jadi untuk mengubah potensi menjadi skill yaitu dengan jalan pendidikan.
 H.           Istilah Manusia dalam Al Qur’an
Al Qur’an menggunakan istilah dalam menyebutkan manusia, diantaranya:
1.             An-Nas
Kata Nas merujuk kepada manusia sebagai makhluk sosial, seperti dijelaskan dalam QS Al Hujurat ayat 13:
“ Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
2.             Al-Insan
Istlah ini merujuk kepada tiga konteks, pengemban amanah (QS Al Ahzab: 72), kecenderungan negative manusia (QS Al Isra’: 12 dan 100), dan proses penciptaan manusia (QS Al Hijr: 26)
3.             Al-Basyar
Al Basyar mengacu pada manusia makhluk biologis (QS Al Kahf:110):
“Katakanlah (Muhammad), “sesungguhnya aku ini manusia seperti kamu yang telah menerima wahyu, bahwa sesunggunya Tuhanmu ialah Tuhan yang Esa.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar