BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagai
umat Islam kita sudah tahu bahwa Rukun Iman ada enam, yaitu iman kepada Allah,
Malaikat, Kitab, Nabi dan Rasul, Hari akhiur dan iman kepada Qada’ dan Qadar.
Dalam al Qur’an dijelaskan bahwa kita wajib percaya dan mengimani hal-hal yang
ghaib, sebagaimana dalam surah Al baqarah ayat 3:
“yaitu
mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka”.[1]
Penggalan
terjemah ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa kita sebagai seorang muslim
wajib pecaya kepada hal-hal yang ghaib. Malaikat termasuk makhluk ghaib itu
sebabnya kita juga harus mengimani mereka.
Kepercayaan
kepada malaikat merupakan salah satu pokok ajaran Islam. Kepercayaan ini
dinilai oleh ulama-ulama sebagai salah satu rukun iman. Bukan saja tidak
sempurna, tetapi tidak sah iman seorang muslim, apabila ia tidak percaya adanya
malaikat ddengan sifat-sifat yang dijelaskan agama.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
defiisi iman kepada Malaikat ?
2.
Apa-apakah
dalil yang menjelaskan tentang keberadaan malaikat ?
3.
Apa-apa
sajakah sifat-sifat malaikat ?
4.
Apakah
hikmah beriman kepada malaikat ?
C.
Tujuan
1.
Untuk
memahami tentang iman kepada malaikat itu sendiri.
2.
Untuk
memahami dalil-dalil tentang keberadaan malaikat.
3.
Untuk
mengetahui sifat-sifat malaikat.
4.
Untuk
memahami hikmah beriman kepada malaikat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
IMAN KEPADA MALAIKAT
Sebelum
kita mengetahui dan memahami Iman kepada Malaikat, kita harus tahu apa itu
malaikat. Kata Malaikat dalam bahasa Indonesia penggunaannya pada biasanya
disnggap berbentuk tunggal, sama dengan kata ulama. Dalam bahasa arab dari mana
kata-kata itu berasal, keduanya merupakan bentuk jama’ dari kata “malaka” untuk
malaikat dan ‘alima untuk ulama. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata “malak”
terambil dari kata ‘’alaka-malakah’’ yang berarti mengutus atau
perutusan/risalah.
Malaikat
adalah utusan-utusan Tuhan, untuk berbagai fungsi, dan ada juga yang
berpendapat bahwa kata malak terambil dari kata la-aka yang berarti
menyampaikan sesuatu. Malak/malaikat adalah makhluk yang menyampaikan sesuatu
dari Allah SWT.
Kalau
dari kebahasaannya memberikan pengertian seperti itu, maka apakah pengertiannya
menurut agamawan ? Banyak ulama berpendapat bahwa malaikat adalah “makhluk
halus yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya yang dapat berbentuk dengan
aneka bentuk, taat mematuhi perintah Allah dan sedikitpun tidak pernah pernah
membangkang.”[2]
Jadi
iman kepada malaikat adalah mengitikadkan dengan seteguh-teguhnya, bahwa
malaikat itu benar-benar ada dan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang
mukmin serta dimuliakan.[3]
B.
DALIL-DALIL
TENTANG KEBERADAAN MALAIKAT
Baik
dalam Al Qur’an dan hadits begitu banyak dijelaskan tentang keberadaan para
malaikat seperti:
1.
QS
Al Baqarah ayat 98
“Barang
siapa yang menjadi musuh Allah; malaikat-malaikat Nya, Rasul-rasul Nya, Jibril
dan Mikail maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”[4]
2.
Hadits
Rasulullah SAW
“Setiap
pagi, dua malaikat turun mendampingi seorang hamba. Yang satu mendo’a: wahai,
Tuhan! Berikanlah ganti rugi bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya. Dan
yang satu lagi berkata: wahai, Tuhan! Musnahkanlah harta si bakhil. (HR.
Muslim).[5]
3.
Hadits
Rasulullah SAW
“Pada
hari Jum’at, di setiap pintu-pintu masjid terdapat malaikat-malaikat yang
menulis. Orang pertama dan seterusnya. Jika imam telah duduk, maka para
malaikat menutup buku catatannya, kemudian mereka mendengarkan dzikir.” (HR.
Imam Malik)[6]
4.
QS
An Nisa ayat 172
“Al
Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula)
malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barang siapa yang enggan dari
menyembah Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka smua
kepada Nya”[7]
C.
SIFAT-SIFAT
MALAIKAT
1.
Mampu
berbentuk seperti manusia
Dalam
Al Qur’an ditemukan sekian ayat yang menjelaskan bahwa malaikat mengambil wujud
manusia.
Nabi
Ibrahim pernah dikunjungi oleh malaikat berbentuk manusia. Ketika itu, beliau
menghidangkan makanan buat mereka sambil berkata: “Silahkan makan”. (Ad
Dzariyat ayat 27).
Nabi
Luth juga pernah dikunjungi oleh malaikat dalam bentuk manusia. Beliau sangat
khawatir tamu-tamunya yang tampil sebagai pemuda-pemuda yang tampan diganggu
oleh kaumnya yang melakukan homoseksual.[8]
2.
Tidak
berjenis kelamin
Kaum
musyrikin menduga,bahkan percaya,bahwa para malaikat berjenis kelamin wanita:
“Mereka
menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha
Pemurah,sebagai orang-orang perempuan.Apakah mereka menyaksikan penciptaan
malaikat-malaikat itu?Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan
dimntai pertanggung-jawaban”.(Q.s.Az-Zukhruf 43:19).
Al-Qur’an
menolak keyakinan tersebut antara lain dengan firman-Nya:
“Tanyakanlah
kepada mereka(orang-orang kafir Mekah):”Apakah untuk Tuhanmu anak-anak
perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah kami menciptakan
malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan:”Allah
beranak”.Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Apakah
Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?
Apakah terjadi padamu?Bagaimana (caranya )kamu menetapkan?Maka apakah kamu
tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata”? (Q.s.As-Shafat 37.149-156).
Demikian
Allah membantah keyakinan mereka sekaligus membantah,bahwa Allah tidak memilih
atau mengutamakan jenis kelamin apa pun baik wanita maupun pria buat para
malaikat.Tentu saja kalau mereka tidak berjenis kelamin,maka mereka pun tidak
memiliki nafsu seksual dan dengan demikian mereka tidak berhubungan seks,dan
tidak beranak cucu.[9]
3.
Tidak
makan dan minum
4.
Tidak
jemu beribadah dan tidak juga letih
5.
Tidak
melakukan dosa
6.
Gagah[10]
D.
HIKMAH
BERIMAN KEPADA MALAIKAT
Segala sesuatu yang diperintahkan
oleh Allah SWT tentu saja ada hikmah di baliknya, sama halnya dengan iman
kepada malaikat yaitu sebagai berikut:
1.
Menjadikan
kita lebih berhati-hati dalam bertindak maupun berbicara karena kita yakin ada
malaikat yang mengikuti kita.
2.
Menjadikan
kita lebih dekat kepada Allah SWT
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
-
Beriman
kepada malaikat berarti mengitikadkan dengan seteguh-teguhnya, bahwa malaikat
itu benar-benar ada dan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang mukmin serta
dimuliakan.
-
Malaikat
mempunyai sifat-sifat yang berbeda dengan manusia diantaranya:
a.
Mampu
berubah menjadi manusia
b.
Tidak
berjenis kelamin
c.
Tidak
makan dan minum
d.
Tidak
jemu beribadah dan tidak juga letih
e.
Tidak
melakukan dosa
f.
Gagah
-
Hikmah
beriman kepada malaikat sebagai berikut:
a.
Menjadikan
kita lebih berhati-hati dalam bertindak maupun berbicara karena kita yakin ada
malaikat yang mengikuti kita.
b.
Menjadikan
kita lebih dekat kepada Allah SWT
B.
Implikasi
Dalam
Al Qur’an dijelaskan bahwa orang yang beriman adalah orang yang beriman kepada
hal-hal yang ghaib, malaikat termasuk makhluk ghaib, itu sebabnya kita juga
harus mengimani mereka. Telah dijelaskan dalam Al Qur’an agar kita memeluk
Islam secarah kaffah (keseluruhan). Tidak sempurna Islam kita, tidak sempurna
Iman kita jika kita tidak beriman kepada malaikat, karena Iman Kepada Malaikat
adalah Rukun Iman yang kedua.
Dalam
pembahasan di atas dijelaskan bahwa ada malaikat yang selalu mengawasi kita,
olehnya itu kita seantiasa menjaga lisan, perbuatan dan pikiran kita agar
selalu berkata, berbuat dan berpikir positif walaupun kita sebagai manusia
tidak luput dari kesalahan, sebuah pepatah mengatakan “Orang yang baik bukanlah
orang yang tak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang selalu belajar dari
kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah ia
lakukan”.
Dengan
beriman kepada para malaikat diharapkan kita bisa lebih meningkatkan iman dan
takwa kita kepada Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an dan terjemahannya
Danarto, Gerak-gerik Allah Cet II, Risalah Gusti,
1999: SURABAYA
Quraish Shihab, Yang Tersembunyi cet I, Lentera Hati, 1999: JAKARTA
Abdullah Zakiy Al Kaaf, Memperkokoh
Akidah Islamiyah cet I, Pustaka Setia 1999:BANDUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar